Eksotisme Pantai Samas di Kala Senja

Daerah Istimewa Yogyakarta, memang sangat istimewa dan tak ada habisnya untuk diselami. Beberapa julukan melekat dengan kota ini, beberapanya antara lain kota pelajar, kota gudeg, kota budaya hingga  kota wisata, saking komplitnya tak salah bila pihak pemerintah daerah menetapkan “Jogja Never Ending Asia” sebagai brand imagenya. Sebagai daerah kunjungan wisata, Jogja menawarkan banyak obyek wisata alam, dan pantai adalah salah satu obyek wisata alam yang menjadi andalan Yogyakarta. Beberapa pantai tentu sudah sangat tidak asing kita dengar dari yang melegenda Pantai Parang Tritis, TPI (tempat Pelelangan Ikan) Pantai Depok yang terkenal dengan wisata kuliner sea foodnya, Pantai Kukup, Pantai Krakal hingga yang lagi booming2nya Pantai Indrayanti, dan masih banyak pantai2 lainya.

Salah satu diantaranya terdapat nama Pantai Samas, pantai ini terletak di pesisir selatan, kabupaten Bantul tepatnya di Desa Srigading, Kecamatan Sanden, sekitar 14  kilometer arah selatan Kota Bantul. Dari Yogyakarta, Anda dapat menuju ke arah barat daya kurang lebih sejauh 35 kilometer dari pusat Kota Jogja. Pantai ini mungkin jarang terdengar dan kurang populer di kalangan masyarakat luas. Letaknya yang kurang strategis, berbeda dengan pantai2 lainya yang memiliki lokasi yang saling berdekatan /berada di 1 area seperti kelompok pantai Kukup, Baron, Krakal ataupun Parangtritis, Depok, Parangkusumo. Nah, pantai Samas ini memiliki letak yang agak menyendiri dan sedikit berjauhan dengan lokasi wisata pantai lainya, meskipun ada beberapa pantai lainnya disekitar pantai samas itupun juga masih kurang familiar dibandingkan pantai2 lainnya, mungkin hal inilah yang menyebabkan para wisatawan kurang melirik pantai ini.

Namun tidak ada salahnya untuk mengunjungi lokasi wisata pantai samas ini, beberapa keistimewaan ditawarkan pantai ini, selain berfungsi sebagai daerah tujuan lokasi wisata, pantai ini juga memiliki beberapa fungsi lainnya seperti Tempat Pelelangan Ikan, Budidaya pengembangan ikan dan udang galah, beberapa upacara adat juga dilakukan di Pantai Samas ini seperti Upacara Kirab Tumuruning Maheso Suro, Labuhan Sedekah Laut, dan terakhir yang membuat pantai ini sangat unik dan spesial adalah adanya Konservasi penyu yang dikelola oleh Forum Konservasi Penyu Bantul (FKPB). Konservasi/ penangkaran penyu ini didirikan untuk menjaga kelestarian beberapa jenis penyu, antara lain penyu blimbing, penyu sisik, dan penyu hijau yang sering datang ke pantai ini. Di penangkaran ini penyu2 dipelihara dan dikembang-biakan hingga cukup umur untuk dikembalikan kehabitat asalnya di laut.

Kondisi pengunjung yang cenderung sepi didukung dengan tekstur pantai yang agak curam dan lautan pasir serta area yang luas dan memanjang sangat cocok bagi wisatawan untuk melakukan berbagai aktivitas seperti bermain bola, lari2 kecil menyusuri bibir pantai ataupun sekedar bermain pasir, dan bagi yang suka narsis didepan kamera, kapal2 nelayan dengan aneka ukuran dan corak warna yang terparkir dengan rapinya tentunya sangat cocok untuk dijadikan spot berfoto2.

Bila kita mengunjungi pantai ini disore hari dapat dipastikan keindahan dan kejaiban sunset akan membuat kita betah berlama-lama dipantai ini. Keindahan detik demi detik mentari menenggelamkan diri di ufuk barat, semburat warna merah dan jingga yang mengelilingi mentari, benar2 menghipnotis kita yang melihatnya. Dengan semua keistimewaan yang tersebut di atas, apabila  ditambah dengan pembangunan dan pengelolaan fasilitas sarana dan prasarana penunjang wisata yang lengkap serta promosi yang gencar dari pihak terkait tentunya pantai samas ini akan dapat lebih dikenal oleh masyarakat luas.

sumber :

http://wikimapia.org/14837466/id/Pantai-Samas

http://wartabantul.com/index.php?option=com_k2&view=item&id=224:konservasi-penyu-pantai-samas&Itemid=199

MENJELANG SENJA DI PELABUHAN BAKAHUENI

Menurut data PT Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan (ASDP) satu-satunya BUMN yang mengelola transportasi antarpulau, setiap hari hampir 3.000 truk, 200 bus, dan ratusan kendaraan pribadi menggunakan sarana angkutan penyeberangan kedua pulau ini. Angka ini melonjak tajam mendekati Lebaran atau Natal dan Tahun Baru. Kemacetan tak bisa dihindari. Kemacetan dan antrean panjang bisa terjadi berhari-hari. Akibatnya komoditas pertanian berupa buah-buahan, sayuran, makanan mengalami kerusakan.Untuk mengatasi permasalahan yang ada munculah rencana dibangunnya Jembatan Selat Sunda.

Namun dibalik semua keruwetan dan permasalahan yang terjadi, Pelabuhan Bakahueni Lampung sebagai penghubung sarana transportasi angkutan penyeberangan Jawa-Sumatera via laut dan juga pintu gerbang ke pulau sumatera, menyimpan keindahan alam kepulauan yang indah dan mempesona.

Bila kita punya agenda acara untuk berpergian ke berbagai tempat di pulau Sumatera dengan menggunakan transportasi darat, untuk sementara satu2nya cara untuk mencapai tujuan tersebut adalah dengan menggunakan bantuan jasa penyebrangan kapal feri.

Rata-rata durasi perjalanan yang diperlukan antara Bakauheni (Lampung, Sumatera)- Merak (Banten, Jawa) atau sebaliknya dengan feri ini adalah sekitar 2 jam. Nah Di akhir perjalanan menjelang pelabuhan bakahueni lampung kita akan diberi bonus suguhan pemandangan yang cukup istimewa.

Apalagi jika kita beruntung mendapatkan trip perjalanan di sore hari menjelang matahari terbenam, pesona keanggunan keindahan panaroma sekitar pelabuhan bakahueni akan memberikan sensasi tersendiri bagi yang melihatnya. Di bawah langit biru yang cerah, dipercikan redup sinar mentari sore, diterpa semilir angin laut segar yang menerpa wajah, deburan suara ombak yang dihantam kapal, diombang-ambing oleh ombak laut, diterapi aroma air laut yang khas, sensasi2 tadi akan terus menemani kita untuk menikmati sajian pemandangan alam yang ada.

Gundukan pulau2 kecil tampak menghijau ditumbuhi pepohonan yang rimbun seolah menyambut kita, dari kejauhan tampak kapal2 feri dengan berbagai macam aktifitas di sekitar dermaga, mentari yang perlahan hendak tenggelam di balik bukit membiaskan bayangannya ke arah lautan, bukit2 besar yang melatar belakangi pelabuhan melebur menjadi kesatuan yang tak terpisahkan dengan panoroma sekitar yang ada. Dan terakhir yang tampil sebagai primadona pertunjukan pesona pelabuhan bakahueni adalah Menara Siger.

Bangunan ikon kebanggan masyarakat lampung ini berdiri di atas bukit dengan cantik dan anggunya. Selain menjadi salah satu tujuan wisata di propinsi Lampung, menara ini juga menjadi titik nol sumatera di selatan.

sumber2 :

http://id.wikipedia.org/wiki/Pelabuhan_Bakauheni

http://www.bumn.go.id/wika/publikasi/berita/jembatan-selat-sunda-revolusi-jawa-sumatra/

http://id.wikipedia.org/wiki/Menara_Siger

OBYEK WISATA PEMANDIAN AIR PANAS GUCI

Tanggal 9 Februari 2007, suatu malam, di sebuah kos2an, di salah satu sudut kota yogyakarta. Seperti malam2 biasanya, saya dan beberapa orang teman sering berkumpul di kamar seorang teman. Malam semakin larut, jam dinding sudah menunjukan pukul 3 dini hari namun kami masih saja ngobrol2 santai menghabiskan waktu malam, salah satu kebiasaan yang biasa bagi anak kos dalam menghabiskan kegelapan malam.

Malam itu sang pemilik kamar tio, mengatakan bahwa dalam waktu dekat berencana untuk pulang kampung ke kota Brebes, berawal dari rencana tersebut seorang teman mencetuskan ide untuk ikut menemani pulang ke brebes pagi hari itu juga sekaligus bersilaturahmi ke rumah si tio, kami yang ada di kamar spontan langsung mengamini ide dadakan itu.


Keesokan harinya sekitar pukul 9an kami berempat bergegas berangkat. Dengan mengendarai 2 sepeda motor, garis start dimulai dari kos2an kami yang terletak di blunyah rejo, yogyakarta hingga garis finis di kota brebes, beberapa kota kami lewati, yogyakarta – magelang – temanggung – kendal – batang – pekalongan – pemalang – tegal dan akhirnya brebes. Dikarenakan kami sering beristirahat dan mampir di beberapa tempat, kami pun baru tiba di kota brebes sekitar pukul 10an malam. Setelah semalaman nyenyak tidur istirahat melepas rasa lelah dan kantuk, pagi harinya sebagai tuan rumah tampaknya Tio tidak mau mengecewakan kami, dengan mengajak kami berekreasi ke Obyek wisata guci.

Itulah sekelumit kronologi mengapa saya bisa berwisata jauh hingga ke lereng kaki gunung slamet. Gunung Slamet (3.428 meter) sendiri adalah gunung berapi yang terdapat di Pulau Jawa, Indonesia. Gunung ini berada di perbatasan Kabupaten Brebes, Banyumas, Purbalingga, Kabupaten Tegal dan Kabupaten Pemalang, Provinsi Jawa Tengah, dan merupakan yang tertinggi di Jawa Tengah serta kedua tertinggi di Pulau Jawa setelah Gunung Semeru. Di kaki gunung Slamet inilah letak Obyek Wisata Pemandian Air Panas Guci berada, dari kota brebes lokasi ini, dapat kita tempuh sekitar kurang lebih sekitar 1 jam.

Pemandangan perbukitan dan pepohonan yang asri, rimbun dan menghijau, serta  lereng2 yang  beralih fungsi sebagai perkebunan sayur mayur menemani kami selama perjalanan membuat rasa lelah yang masih tersisa menjadi hilang terganti rasa antusias dan penasaran. Semakin mendekati lokasi wisata, udara sekitar semakin dingin dan sejuk, cocok sekali untuk menyegarkan dan membersihkan rongga paru2, sangat kontras dengan udara di perkotaan pantura yang berpolusi, panas dan terik.

Tiba di lokasi wisata, fasilitas pemandian yang disediakan dibedakan menjadi 2 jenis
1.  Pemandian Air panas terbuka     : Pancuran 13,Pancuran  7, Pancuran 5,
2.  Pemandian Air panas tertutup    : Ada 20 kamar tertutup
Kami pun tidak mau membuang waktu cuma2 dan berbasa basi, langsung saja kami menceburkan diri dan berendam, menikmati hangatnya guyuran air yang muncul dari pancuran yang menempel di dinding2 pemandian. Layaknya terapi relaksasi, badan menjadi rileks, sejenak merefreshkan diri melupakan segala macam problema yang ada di pikiran.

Mandi atau berendam di pemandaian air panas di guci ini dipercaya memiliki kasiat dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit khususnya penyakit kulit, selain itu di hari2 tertentu pemandian ini rutin digunakan beberapa pihak untuk mengadakan ritual2 meminta berkah. Sebagai penutup berikut saya sharing sejarah tentang asal usul  pemandian air panas GUCI yang saya peroleh dari disparbud.tegalkab.go.id

Cerita tentang GUCI berawal dari sebuah pedukuhan yang bernama Kaputihan. Kaputihan berarti yang belum tercemar atau masih suci, yang berarti daerah Kaputihan belum tercemar oleh agama dan peradaban lain. Istilah Kaputihan pertama kali yang memperkenalkan adalah Beliau yang dikenal dengan Kyai Ageng Klitik (Kyai Klitik) yang nama sesungguhnya adalah Raden Mas Arya Hadiningrat asal dari Demak. Setelah Beliau Kyai Klitik menetap dan tinggal cukup lama di Lereng Gunung Slamet (kampung Kaputihan) maka banyak warga yang berdatangan dari tempat lain sehingga kampung Kaputihan menjadi ramai. Suatu ketika datanglah Syech Elang Sutajaya utusan Sunan Gunungjati (Syeh Syarief Hidayatulloh) dari pesantren Gunungjati Cirebon untuk syiar islam.
Dan kebetulan di kampung Kaputihan sedang terjadi pagebluk (bencana alam, penyakit merajalela, tanaman diserang hama dsb), sehingga Beliau Elang Sutajaya memohon petunjuk kepada Alloh SWT dengan semedi kemudian Alloh SWT member petunjuk, supaya masyarakat kampung Kaputihan meningkatkan iman dan taqwanya kepada Alloh SWT dengan menggelar tasyakuran, memperbanyak sedekah dan yang terkena wabah penyakit khususnya gatal-gatal agar meminun air dari kendi (Guci) yang sudah dido’akan oleh Sunan Gunungjati. Dalam kesempatan itu pula Sunan Gunungjati berkenan mendo’akan sumber air panas di kampong Kaputihan agar bisa dipergunakan untuk menyembuhkan segala penyakit. Semenjak itu karena kendi (guci) berisi air yang sudah dido’akan oleh Sunan Gunungjati ditinggal dikampong Kaputihan dan selalu dijadikan sarana pengobatan.
Maka sejak saat itu masyarakat sekitar menyebut-nyebut Guci-guci. Sehingga Kyai Klitik selaku Kepala Dukuh Kaputihan Merubahnya menjadi Desa Guci, dan Beliau sebagai Lurah pertamanya.
Guci peninggalan Elang Sutajaya itu berada di Musium Nasional setelah pada pemerintahan Adipati Brebes Raden Cakraningrat membawanya ke Musium.

sumber http://id.wikipedia.org/wiki/Gunung_Slamet

sumber http://www.disparbud.tegalkab.go.id/id/wisata-alam/pemandian-air-panas-guci.html

PANTAI PADANG

Selain dikenal dengan keindahan dan kehijauan wisata alam perbukitannya, di propinsi Sumatera Barat juga memiliki rekreasi alam Pantai yang tak kalah indah dan elok. Propinsi ini terletak di pesisir barat bagian tengah pulau sumatera, akibatnya secara geografis garis pantai di provinsi ini seluruhnya bersentuhan dengan Samudera Hindia. Tidak seperti pantai2 di pesisir selatan pulau jawa yang juga bersentuhan samudera hindia yang biasanya memiliki gelombang ombak lumayan tinggi namun di pesisir pantai sumbar memilki gelombang ombak yang tidak terlalu tinggi, hal ini dikarenakan di sebelah bagian barat propinsi sumbar terdapat gugusan kepulauan kecil yang dikenal dengan kepulauan mentawai, nah kepulauan mentawai inilah yang menjadi filter terhadap gelombang ombak samudra hindia yang tinggi.

Pantai padang, dari namanya tentu sudah bisa kita tebak dimana letaknya? ya pantai ini berada di pesisir laut sebelah barat kota Padang, ibu kota propinsi sumatera barat, lokasinya yang sangat mudah dijangkau membuat pantai ini menjadi primadona bagi penduduk sekitar kota padang untuk melepas penat. Kondisi pantai di pantai padang ini bertipe dermaga, terdapat batu2an karang besar yang disusun sedemikian rupa sehingga menjadi penghalang antara air laut dengan daratan.

Di beberapa sudut pantai, masih memiliki tekstur yang landai dan berpasir itupun tidak terlalu luas. Meskipun demikian, tipe dermaga inilah yang membuat pantai padang ini sangat cocok dijadikan spot memancing, tak heran dibeberapa tempat kita temui para pemancing mania sedang menyalurkan hobinya.

Menghadap ke arah barat, membuat sore hari adalah waktu yang paling tepat untuk mengunjungi pantai ini, disini kita dapat melihat proses transformasi antara sore hari yang cerah berubah menjadi malam yang gelap, berkas sinar mentari yang berwarna jingga kemerah2an sebelum terbenam di ufuk barat, suara deburan ombak yang dipecahkan batuan karang, hembusan semilir angin laut, ditemani dengan air kelapa segar dan cemilan pisang bakar sangat pas dan cocok bagi pengunjung untuk relaksasi melepas penat setelah lelah seharian bekerja maupun beraktifitas lainnya.

Beranjak malam, tenda2 berukuran besar mulai berdiri, di tenda2 ini menyajikan santap malam dengan menu seafood yang menggugah selera, asap2 akibat pembakaran ikan mulai mengepul dibeberapa tenda, aroma ikan bakar mulai menusuk hidung, perut pun jadi korbannya, apalagi makan di pinggir pantai hmmm LAZISSS….. Tak heran semakin malam, pantai padang semakin ramai dikunjungi.

GOA NGALAU INDAH & PANORAMA PUNCAK

Lokasi wisata ini tepat berada di gerbang pintu masuk kota Payakumbuh dan menjadi salah satu lokasi wisata andalan Kota Payakumbuh. Lokasinya yang berada di kawasan perbukitan ini menuntut kita harus melintasi jalan yang sedikit menanjak, namun pemandangan yang disajikan cukup indah, disela2 rimbunnya pepohonan dan sesekali ada space kosong kita dapat melihat keramaian jalan raya kota Payakumbuh dari atas bukit.

Berada tidak jauh dari pusat kota Payakumbuh, fasilitas yang tersedia lumayan lengkap, area parkir yang luas, taman-taman bermain yang bersih dan luas, warung makan dan jajanan, dan bagi penyuka olahraga renang, disini terdapat fasilitas kolam renang yang dapat digunakan. Fasilitas2 tadi membuat kawasan goa ngalau indah ini menjadi tujuan wisata favorit bagi masyarakat kota payakumbuh dan sekitarnya.

GOA NGALAU

Untuk menuju ke mulut goa saya terlebih dulu harus melewati beberapa anak tangga, tenang posisinya yang tidak terlalu tinggi, tidak membuat saya mengeluarkan banyak energi.

Menyusuri  ke area dalam goa (perut goa), goa ini memiliki ruang dalam yang lumayan luas, di dalam goa ini kita disuguhkan ornamen khas goa yaitu  stalakmit dan stalaktit. Stalakmit & stalaktit  ini mencuat tersebar  dibeberapa sudut goa, dengan beraneka macam bentuk yang indah dan eksotis. Terdapat pula beberapa jembatan buatan yang menarik untuk dijadikan spot untuk berfoto2.

Dinding2 goa dengan tekstur berongga-rongga juga tak mau kalah unjuk pamer keindahan. Tidak ketinggalan pula hewan epidemis goa yaitu kelelawar menampakan diri dengan bergelantungan di atap2 goa.

PANORAMA PUNCAK

Setelah Puas menyusuri perut goa yang menakjubkan, kami beralih ke sebuah puncak bukit. Di kawasan goa ngalau ini, terdapat puncak bukit yang memiliki panorama indah, jalur yang disediakan untuk menuju spot ini lumayan membuat saya berolahraga.

Puluhan hingga ratusan anak tangga dan trek yang menanjak membuat badan menjadi lebih segar dan berkeringat. Dinding2 bukit berbatuan dan semak-semak belukar yang rimbun, menemani saya mendaki puncak ini.

Sesampainya di puncak bukit, rasa letih dan lelah terbayar lunas, di puncak tertinggi ini tersaji panorama yang luar biasa elok kearah kota Payakumbuh, layaknya sebuah lukisan, perpaduan antara jalan raya yang mengular, bangunan perkotaan bermacam ukuran serta gundukan2 bukit pepohonan yang kontras menghasilkan panorama yang indah dan cantik.

Lebih mantap lagi, kita juga dapat melihat dengan jelas gunung sago yang gagah dan  membiru. Semakin pagi mengunjungi tempat ini semakin maknyuzz karena selain cocok untuk berolahraga, kita juga dapat menikmati sunrise yang perlahan mengintip diantara perbukit, awan dan gunung sago… Subhanalloh.. Sip Markusip…

KRAN AIR OTOMATIS

Bermula dari layanan Air Minum yang kami dapat dari PDAM kurang memuaskan selain kualitas air yang kurang baik, kuantitas air pun sangat menyedihkan. Kalau sedang kumat2nya, seharian kucuran air yang muncul sangat kecil bahkan sering kali tidak mengalir, kondisi di malam hari tidak jauh bedanya, air baru mengucur normal-deras sekitar pukul 8 terkadang harus menunggu lebih malam lagi baru mengalir normal. Karenanya kami sering terlambat mengontrol kondisi air di bak mandi, akibat yang terjadi air jadi sering meluber, lebih lanjut lagi efek domino yang muncul tagihan air rumah kami jadi membengkak.

Nah berdasar dari problem2 disebut diatas, akhirnya saya mendapat ilham dari cara kerja tempat penampungan air (tandon). Dimana air dapat mati secara otomatis apabila air sudah penuh, hal ini dapat terjadi karena mengacu pada hukum Fisika;
“Hukum Archimedes mengatakan bahwa apabila sebuah benda sebagian atau seluruhnya terbenam kedalam air, maka benda tersebut akan mendapat gaya tekan yang mengarah keatas yang besarnya sama dengan berat air yang dipindahkan oleh bagian benda yang terbenam tersebut. Bola pelampung dapat terapung karena memiliki massa jenis yang lebih kecil dibandingkan air”

Membuat Alat ini sangat mudah dan murah. Alat yang diperlukan ;

1. Stop Kran
2. Pipa PVC
3. Lem Pipa
4. Gergaji BEsi
5. Double Neple
6. Pelampung TAndon
7. Kni Drat 1/2
8. Sok Drat 1/2
9. Seal Tape

Langkah Awal
Persiapkan alat2 yang diperlukan, waktu luang dan tentu saja dana
Langkah Kedua
Terlebih dulu kita buat rancangan bentuk kran air, kran air dapat kita bentuk sesuai dengan bentuk bak mandi dan selera kita. Yang paling terpenting  posisi bola pelampung jangan sampai melebihi garis bibir bak mandi, bila bola pelampung melebihi garis bibir bak mandi bisa dipastikan air akan tetap meluber karena kran tidak menutup dengan sempurna
Langkah Ketiga
Kita rakit pipa ini sesuai rancangan yang sudah kita buat.

Rekatkan seal tape pada double neple di tiap ujung dan sambungkan Knee Drat dengan erat

Potong pipa dengan ukuran sesuai rancangan yang telah kita buat..


Oleskan lem pada pipa secukupnya ke tiap2 ujung yang hendak disambungkan…

Sambung stop kran dengan pipa yang telah menyatu dengan Double neple dan Knee Drat…

Terakhir jangan lupa sambung dengan bola pelampung…

This is it “Kran Air Otomatis”…

Langkah Keempat
Tes fungsi, apakah kran air yang kita buat berfungsi sebagaimana mestinya. Kran air berfungi dengan amat baik bila air tidak meluber dan sambungan2 antar pipa tidak menunjukan gejala kebocoran (tetesan air diantara sambungan)

Berikut mekanisme cara kerja Kran Otomatis

Langkah Kelima
Anda bisa tidur dengan tenang tanpa harus khawatir air di bak mandi anda akan meluber dan tentu saja air di bak mandi anda akan selalu terisi penuh… Alhamdulillah..

Semoga Bermanfaat

KELOK SEMBILAN

Pegunungan Bukit Barisan adalah jajaran gunung yang membentang dari ujung utara (Aceh) sampai ujung selatan (Lampung) pulau Sumatra, memiliki panjang lebih kurang 1650 km. Hal inilah yang membentuk tekstur tanah di sumatera barat sebagian besar didominasi oleh perbukitan dan pegunungan. Kondisi ini pula, yang menyebabkan jalanan yang menghubungkan antar kota maupun antar desa kebanyakan melintasi daerah lereng-lereng perbukian. Dengan kondisi ini tentunya jalanan yang ada dibentuk mengikuti tekstur2 lereng yang sehingga tidak sedikit terbentuk jalanan yang berkelok-kelok

Menurut sepengetahuan saya, terdapat 2 jalanan berkelok-kelok yang terkenal di daerah sumatra barat. Yang pertama adalah kelok 44, kelokan ini sangat fenomenal, jalanan yang menyusur di perbukitan sekitar danau maninjau ini sangat tajam sehingga membentuk huruf U. Yang kedua dan tak kalah fenomenalnya adalah kelok 9.

Dari kota payakumbuh, kawasan kelok 9 dapat ditempuh dengan waktu kurang lebih 30 menit. Di sepanjang jalan  panorama elok terbentang sejauh mata memandang, perbukitan yang besar dan hijau, sungai-sungai yang mengalir dan menyusuri jalanan serta tikungan-tikungan yang menghilang disela-sela perbukitan menambah seru dan semarak panorama yang ada. Turut mendukung pula jalanan antar propinsi yang lebar dan mulus membuat saya sangat enjoy menikmati pemandangan yang ada.

Sebelum memasuki kawasan kelok 9 terlebih dulu kita akan disambut oleh kawasan hutan lindung. Perbukitan yang ditumbuhi pepohonan yang tinggi dan lebat turut menghuni kawasan hutan lindung ini.


Kelok 9 tepatnya berada di antara Jl Payakumbuh – Pangkalan (Batas Riau). Jalan ini (kelok 9) dibangun oleh pemerintah Hindia-Belanda pada tahun 1932 dan memiliki sembilan kelokan ke kiri dan ke kanan, sehingga dinamakan Kelok 9.

Sejak tahun 2003, mulai dilakukan pembangunan jembatan sekaligus ruas jalan baru di sekitar Kelok 9. Panjang keseluruhan jembatan dan jalan yang dibangun adalah 2.537 meter, dimana 964 meter di antaranya merupakan jembatan dengan lebar mencapai 13,5 meter dan tinggi pelindung di sisi kiri dan kanan 1 meter. Pembangunan ini ditangani dalam dua tahap. Tahap pertama adalah pembangunan empat jembatan sepanjang 720 meter dengan jalan penghubung sepanjang 150 meter.
Sedangkan tahap kedua akan membangun dua jembatan sepanjang 250 meter dan jalan penghubung sepanjang 1 km. Saat ini, pembangunan tahap satu telah selesai pengerjaannya. Sedangkan pembangunan tahap dua yang ditaksir akan menelan biaya Rp187 miliar, direncanakan akan selesai pada tahun 2013. Setelah kedua tahapan pembangunan selesai, ruas jalan lama nantinya akan difungsikan sebagai objek wisata.

Tak lama kemudian sampailah saya dikawasan kelok 9. Dari arah payakumbuh tantangan yang disediakan kelok  9 adalah medan jalan yang menanjak dan berkelok. Kelokan yang ada di kelok 9 ini tidak setajam dibandingkan dengan kelok 44. Namun dikarenakan kawasan kelok 9 yang masih dalam masa tahap pembangunan sehingga mengakibatkan kondisi jalan yang sedikit rusak dan berdebu, portal-portal pembatas area proyek banyak berdiri di beberapa sudut jalan, serta lintas antar propinsi yang ramai dan dilalui banyak kendaraan berukuran besar seperti bus dan truk, beberapa hal tadi menyebabkan akses jalan menjadi semakin sempit dan macet sehingga mengharuskan saya untuk ekstra hati-hati dan sedikit bersabar.

Setelah melewati kawasan kelok 9, panorama perbukitan yang asri dan hijau kembali menemui saya. Disela-sela perbukitan dan jalan yang berkelok-kelok ini saya menemukan spot menarik bagi pelancong/pengemudi yaitu “Bandrek House” disini pengunjung dapat sejenak beristirahat, makan-minum dan menikmati pemandangan landscape perbukitan yang ada.
Selain menu kuliner yang ada, konsep bangunan bandrek house yang berdiri di pinggiran bukit mirip gardu pandang dengan latar belakang pemandangan perbukitan yang Subhanalloh.. sangat istimewa, indah dan adem, menurut saya 2 faktor  ini merupakan senjata utama bandrek house  dalam memuaskan pelanggan yang datang.. PAS Mantap..  setelah dirasa cukup menghabiskan waktu sejenak di bandrek house kami pun memutuskan kembali ke basecamp (Payakumbuh).

sumber http://id.wikipedia.org/wiki/Pegunungan_Bukit_Barisan

sumber http://id.wikipedia.org/wiki/Kelok_9